expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

ASRAMA

ASRAMA
WELCOME!!! Haloo semuanya... Makasi udah mau mampir di blog ini. Ini nama kelompok Ilmu Sosial hehehe. Nama blog? Kalian pasti tanya-tanya apa sih artinya Asrama? Kenapa blog ini namanya Asrama? Jadi gini nihhh,, Asrama itu sebenernya singkatan dari "Apalah Arti Sebuah Nama yang Penting Kita Bersama". Hehehe Kenapa kita namain seperti itu? Karna tujuan blog ini adalah kebersamaan. Bersama berbagi informasi, pengetahuan. Intinya, entah siapapun nama kita, darimanapun budaya kita, yang penting kita bersama :)

Jumat, 24 April 2015

Human Organizations



Human Organizations : Groups, Families, Communities, Cities and States



1.1       Groups (Kelompok)
1.1 Kelompok merupakan sejumlah orang dengan norma-norma yang sama, nilai-nilai, dan harapan yang berinteraksi secara teratur.
Tipe-tipe Kelompok :
·         Primary Group : kelompok kecil yang intim, face-to-face asosiasi dan kerjasama.
·         Secondary Group : formal, kelompok-kelompok impersonal dengan sedikit keintiman sosial atau saling pengertian



Gambar 1.1 Groups
 
1.2      1.2 Family (Keluarga)
Keluarga adalah orang yang berhubungan dengan darah, perkawinan, atau lainnya yang disepakati hubungan, atau adopsi yang berbagi tanggung jawab utama untuk reproduksi dan merawat anggota masyarakat.

 

Gambar 1.2 My Family


1.3       1.3 Communities (Komunitas)
Tipe-Tipe Komunitas :
·         Central Cities (Kota), isu yang ada di kota yaitu, kejahatan, polusi, sekolah, transportasi yang tidak memadai.
·         Suburbs (Pinggiran Kota), setiap komunitas dekat kota besar. Tiga factor yang membedakan pinggiran kota dengan kota : kurang padat dari kota, ruang pribadi, kode bangunan yang lebih menuntut.
·         Rural Communities (Masyarakat Perdesaan), Seperempat dari penduduk tinggal di kota-kota 2.500 orang atau kurang yang tidak berdekatan dengan kota. Pertanian hanya menyumbang 9% dari tenaga kerja di negara non-urban

 
Gambar 1.3 Community

1.4      1.4 Cities (Kota)


Gambar 1.4 Kota Jakarta






       









1.5  States

 
Gambar 1.5 Limestone
















 Sumber :
 Power Point Binus Maya Human Organizations : Groups, Families,  Communities, Cities and States diunduh pada tanggal 24 April 2015

Human Philosophical Reflection 2 : Knowledge, Intelligence, Affection, and Freedom

1. Knowledge (Pengetahuan)

1.1 Pengetahuan tidak bisa dipandang seperti memandang suatu objek yang terdapat di sana, di depan subjek, yang dapat dijangkau oleh pandanga  dan oleh tangan manusia. Permasalahan kritis di sini adalah kompleksitas pengetahuan manusia yang sulit dijangkau secara lengkap, utuh, dan paripurna oleh budi manusia yang terbatas.

1.2 Pengetahuan itu dikatakan indrawi lahir atau indari luar kalau orang mencapaiya secara langsng, melalui penglihatan, pendengaran, pembau, perasaan, serta peraba setiap kenyataan yang mengelilinginya.

1.3 Pengetahuan itu dinamakan pengetahuan indrawi batin ketika menampakkan dirinya kepada orang dengan ingatan dan khayan, baik mengenai apa yang tidak ada lagi atau yang belum pernah ada maupun yang terdapat di luar jangkauannya.

1.4 Pengetahuan disebut juga perseptif, muncul secara spontan, pengetahuan itu memungkinkan orang untuk menyesuaikan dirinya secara langsung dengan situasi yang disajikan. Pengetahuan dalam arti ini lebih menyatakan dirinya melalu gerakan tangan, tingkah laku, gerakan-gerakan, sikap-sikap, serta jerit teriakan, daripada dengan perkataan yang dipikiran atau dengan keterangan yang jelas.

1.5 Pengetahuan disebut refleksif, ketika pengetahuan itu membuat objektif kodrat dari suatu realitas apa pun juga. Pengungkapannya adalah, baik dalam bentuk ide, konsep, definisi, serta putus-putusan maupun dalam bentuk lambang, mitos, atau karya-karya seni.

 2. Intelligence (Pengertian)

 2.1 Istilah Inteligensi diambil dari kata intellectus dan kata kerja intellegere (bahasa Latin). Kata intellegere terdiri dari kata intus yang artinya dalam pikiran atau akal, dan kata legere yang berarti membaca atau menangkap. Kata intellegere dengan ini berarti membaca dalam pikiran atau akal segala hal dan menangkap artinya yang dalam.

2.2 Menjadi Intelegensi berarti menangkap apa yang fundamental pada jenis ini atau macam ada yang itu, berarti menangkap apa yang esensial dari suatu gejala. Melihat apa yang hakiki  dalam kegiatan ini atau itu (menambah, mengurangi, mengalihkan, atau membagi).

2.3 Inteligensi adalah kegiatan dari suatu organisme dalam menyesuaikan diri dengan situasi-situasi dengan menggunakan kombinasi fungsi-fungsi seperti persepsi, ingatan, konseptual, abstraksi, imajinasi, atensi, konsentrasi, seleksi relasi, rencana, ekstrapolasi, prediksi, kontrol (pengendalian), memilih, mengarahkan. Berbeda dengan naluri, kebiasaan, adat isitiadat, hafalan tanpa mempergunakan pikiran, tradisi.

2.4 Pada tingkat intelek (pemahaman) yang lebih tinggi, inteligensi juga dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah-masalah (soal-soal kebingungan) dengan penggunaan pemikiran abstrak.

2.5 Bentuk-bentuk kegiatan intelektif manusia berasal dari tahap-tahap yang paling rendah (sederhana) sampai ke tahap yang lebih tinggi (kompleks). Pengetahuan itu berjalan dari tahap yang tidak sadar sampai kepada tahap yang sadar yang menempatkannya secara sistematis dan reflektif. Pngetahuan pada tahap sadar ini memiliki sistematisasi dan refleksi. Pengetahuan intelektif yang paling rendah atau yang paling sederhana adalah penglihatan atau penanggapan (persepsi). Kegiatan intelektif pada tahap yang rendah atau sederhana ini umumnya digerakkan secara tidak sadar dan prareflektif. Persepsi ini, misalnya tampak pada refleksi spontan, prasadar, dan prapribadi.

3. Affection (Afektivitas)


3.1 Cipta (kognisi), karsa (konasi), rasa (afeksi), itulah trias-dinamika manusia, atau manusia sebagai trias-dinamika. Diakui bahwa manusia bukan saja memiliki kemampuan kognitif-intelektual, tetapi juga afektivitas. Jelasnya, disamping pengetahuan afektivitas juga membuat manusia berada secara aktif dalam dunianya serta berpartisipasi dengan orang lain dan dengan peristiwa-peristiwa dunianya.

3.2 Afektivitas tidak sama dengan pengetahua namum menjadi penggerak atau penyebab dan sekaligus akibat dari proses pengetahuan manusia dalam arti penerapannya dalam bentuk perbuatan atau tindakan.

3.3  Kaum positivis dan saintis umunya memanang bahwa hal-hal afektif tidak memiliki objektivitas untuk diletakkan sebagai tindakan kognitif intelektual. Alasan penolakannya adalah karena kendala indrawi yang tidak dapat memberikan penegasan epistemologis yang berkesesuaian terhadapnya. Walaupun demikian, hendaknya orang tidak terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan hanya karena hal-hal afektivitas bersifat nonkognitif.

4. Freedom (Kebebasan)


4.1 Manusia akan mungkin merealisasikan dirinya secara penuh jika ia bebas.  Gagasan kebebasan semacam ini selalu aktual dalam hidup manusia selain karena kebebasan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari diri manusia, juga karena kebebasan itu dalam kenyataannya merupakan suatu yang bersifat "fragile"; kebebasan bersifat sensitif dan rapuh. Manusia adalah makhluk yang bebas, namun sekaligus manusia adalah makhluk yang harus senantiasa memperjuangkan kebebasannya.


4.2 “Freedom is self-determination”. Berdasarkan pengertian itu dapat dikatakan bahwa kebebasan merupakan sesuatu sifat atau ciri khas perbuatan dan kelakuan yang hanya terdapat dalam manusia dan bukan pada binatang atau benda-benda. Kebebasan yang nampak secara sekilas dalam binatang-binatang pada dasarnya bukan kebebasan sejati. Mereka dapat menggerakkan tubuhnya ke mana saja, tetapi semuanya itu sebenarnya bukan berasal dari diri binatang itu sendiri. Gerakan binatang bukanlah hasil dorongan internal diri binatang. Kebebasan mereka adalah kebebasan sebagai produk dorongan-dorongan instingtualnya. Dengan istilah instingtual dimaksudkan tidak adanya peran akal budi dan kehendak. Dalam arti itu sebenarnya di dalam diri binatang-binatang tidak  ada kebebasan.


Sumber :
Power Point Binus Maya Human Philosophical Reflection 2 : Knowledge, Intelligence, and Freedom



Senin, 06 April 2015

Human Philosophical Reflection 1 :Greece and Rome Philosophy, Changing Concepts of the Body, and the Games

1. Greece (Yunani)

1.1 Pengaruh Yunani
Yunani mengembangkan banyak kepercayaan dunia Barat tentang tubuh dan pendidikan jasmani
Kemungkinan dengan Yahudi dan pengaruh Phoenician
 

    Dua sistem metafisik di Yunani
  • Naturalistik : kodrat manusia adalah baik spiritual dan jasmani (fisik), pendidikan dan intelektual ditekankan.
  • Anti-naturalistik : kodrat manusia diciptakan oleh pikiran, dijunjung tinggi dari tubuh, pendidikan jasmani tidak diperlukan
1.2 Posisi Filosofis : Tubuh
  • Dualisme
Penjelasan eksistensi manusia berdasarkan kedua keyakinan metafisik dan teologis.
Socrates dan Plato memiliki implikasi besar bagi pendidikan jasmani memisahkan eksistensi manusia menjadi dua bagian yaitu, pikiran dan tubuh.

Mengangkat pikiran atas tubuh mengatur jasmani ke status inferior. Realitas dan kebenaran terungkap melalui pikiran, bukan tubuh. Pikiran dan ide-ide yang abadi, tubuh meluruh. Kebanyakan dualis percaya bahwa sangat penting untuk mengembangkan kemampuan intelektual atas fisik. Tubuh merupakan musuh pikiran, menipu apa yang nyata. Hanya dalam kematian pikiran benar-benar bebas dari tubuh.

1.3 Klasik Humanisme
 Kesejahteraan manusia yang paling penting adalah tubuh. Dewa-dewa Yunani menganggap manusia sebagai ideal antropomorphis yang digambarkan memiliki tubuh luar biasa seperti (Zeus, Apollo, Athena, dll). Yunani ingin menyerupai dewa-dewa mereka dengan selalu berusaha untuk melatih dan mengembangkan tubuh.

1.4 Greek Ideals : Arete and Agon
  • Arete termasuk kebajikan, keterampilan, kecakapan, kebanggaan, keunggulan, keberanian, dan bangsawan (Stephen Miller)
  • Agon: Homer direferensikan sebagai tempat pertemuan di mana atletik diadakan.
1.5 Atena dan Sparta
 Yunani terdiri dari negara dan kota yang politiknya tidak bersatu. Atena dan Sparta yang sangat terkenal dan sangat kontras budayanya.
  • Atena merupakan pusat kebudayaan dan pembelajaran
  • Sparta mimiliki kekuatan militer dengan prajurit dan warga
2. Rome

2.1 Etruria
Etruscan tinggal di North Central Italia, para sarjana tidak setuju dimana mereka berasal. Arkeologi menemukan pemakaman pada tahun 1958, penemuan makam yang berisi lukisan rumit yang menggambarkan berbagai adegan olahraga yang dikenal sebagai makam olimpiade. Makam tersebut menggambarkan perlombaan lari, melompat, kontes, diskusi, melompati rintangan kayu, berenang, senam, pertempuran senjata. Hal ini menunjukkan bahwa pria dan wanita Etruscan saling aktif dan bersaing satu sama lain.


2.2 Romawi Kuno
Republik Romawi didirikan setelah kemenangan atas Etruscan pada 509 SM) dan Kekaisaran Romawi didirikan pada 27 SM. Kekaisaran dibagi dalam abad keempat Masehi yaitu Empire Barat Masehi berpusat di Roma, berlangsung sampai AD 476. Empire Timur berpusat di Konstantinopel (sekarang Istanbul), berlangsung sampai AD 1453.


2.3 Roman dan Yunani : Analisis Budaya
Roma dihargai kecerdasan dan budaya jauh lebih sedikit daripada Yunani, berfokus pada praktis dibandingkan estetika. Roma tidak memberikan kontribusi banyak untuk kemajuan filosofis dan ilmiah dibandingkan dengan Yunani. Kebanyakan Romawi tidak berbagi keyakinan Yunani dalam "holistik" pembangunan manusia (arete).

 
Roman Architecture



2.4 Keyakinan Roman
Agama relatif kurang dan tidak memiliki upacara, misteri, dan kagum.

2.5 Stoics dan Masyarakat Roman
Stoicisme mengimbau masyarakat Romawi: Individualisme-master nasib Anda sendiri
perilaku pribadi, pengembangan karakter, penerimaan nasib.





2.6 Epicureans
Menolak klaim metafisik atau agama pada perilaku seseorang (mirip dengan Stoicisme). Menentang idealisme, tubuh penting untuk mengetahui dan menemukan realitas. Mempromosikan pengembangan individu berbudaya yang menemukan kebahagiaan melalui kegembiraan pikiran. Mencari kebahagiaan dalam perilaku yang baik, persahabatan, dan kesenangan estetika.

 
Sumber :
Power Point Binus Maya Human Philosophical Reflection 1 : Greece and Rome Philosophy, Changing Concepts of the Body, and the Games